Melayat dengan menyandang kain plakat yang dilakukan oleh Mande Kanduang Sako merupakan wujud nyata kembalinya penerapan adat dan budaya Minangkabau dalam kehidupan bermasyarakat.
Melayat dengan menyandang kain plakat yang dilakukan oleh Mande Kanduang Sako merupakan wujud nyata kembalinya penerapan adat dan budaya Minangkabau dalam kehidupan bermasyarakat.
Kehadiran Mande Kanduang dalam suasana duka tidak sekadar sebagai tamu, tetapi sebagai simbol adat yang membawa nilai kesopanan, kepedulian, dan kebersamaan. Kain plakat yang disandang menjadi penanda identitas serta penghormatan terhadap adat yang telah diwariskan secara turun-temurun.
Langkah ini menjadi pengingat bahwa adat dan budaya bukan sekadar cerita masa lalu, melainkan pedoman hidup yang selayaknya terus diamalkan. Sebagaimana kecek urang tuo-tuo: “bavaliak pinang ka tampuaknyo, suryik siriah ka gagangnyo,” segala sesuatu seharusnya kembali ke asal dan fitrahnya. Adat kembali ke adat, budaya kembali dibudayakan, agar jati diri masyarakat tidak hilang ditelan zaman.
Teladan ini diperlihatkan langsung oleh Ketua Mande Kanduang Sako bersama mande-mande yang berkesempatan hadir dalam acara duka di tengah masyarakat hari ini. Kehadiran mereka menunjukkan bahwa peran Mande Kanduang masih sangat relevan sebagai penjaga nilai adat, penopang moral, serta perekat hubungan sosial. Semoga langkah ini menjadi inspirasi bagi generasi selanjutnya untuk terus menghidupkan adat dan budaya Minangkabau dalam setiap sendi kehidupan bermasyarakat.